Menghargai kelemahan kita dan kelebihan orang lain
Kelemahan adalah suatu hal yang sering dihindari bahkan luput dari pandangan si mpunya. Tapi kelebihan pada diri justru jadi sebuah plakat indah yang siap dipajang dan dipamer di etalase jalan. Layaknya iklan berjalan, piala bernama sombong dan angkuh ternyata menjadi tontonan menarik dan unik bagi banyak orang. Banyak orang terpana pada baju yang dipakai tapi lupa pada panu di dalamnya. Atau jangan-jangan panu itu sudah berubah jadi semacam baju. Orang lebih senang lihat tampilan luar, tapi melupakan kejadian di kreta KRL jurusan Kota sampai Bogor. Tangan yang dipakai tuk mengambil dompet korban itu berasal dari pakaian yang rapi dan bukanlah yang kumal. Orang kira dia mau ke kantor, padahal saat itu dia sedang dinas.
Kelemahan,satu kata yang membuat orang maju pada pencalonan anggota legislatif. Harusnya. Dengan kelemahan pada dirinya maka dia akan tahu siapa Penciptanya.
“Allah, Dialah yang menciptakan kamu dari keadaan lemah kemudian Dia menjadikan (kamu) sesudah keadaan lemah itu menjadi kuat, kemudian Dia menjadikan (kamu) sesudah kuat itu lemah (kembali) dan beruban. Dia menciptakan apa yang dikehendaki-Nya dan Dialah Yang Maha Mengetahui lagi Maha Kuasa. “ (Quran Arrum:54)
Kekuatan. Sebuah kata antonim positif. Kadang diartikan menjadi sebuah tangan besi bertameng api. Berpagar puluhan SSK dengan bambu dan tongkat hitam. Jelaga dan kerak tidak ada beda. Hanya sarung tangan sisa petinju Mike Tyson saja yang masih kumal. Bahkan masih ada kanfas peninggalan darah Holyfield karena telinganya digigit Tyson. Kadang kekuatan itu muncul seperti ular berbisa. Diam-diam melompat dan menggigit. Persis layaknya Gamal Abdul Naser yang coba membangkang. Dia ambil pisau dari dapur sendiri dan menikam yang memasak untuk dirinya. Jahat. Bahasa kekuatan adalah bahasa penjajahan, begitu kata orang fasis. Mereka hanya mengenal perlawanan tanpa mengenal kemapanan karena memang mereka anti kemapanan. Mirip seperti lele di atas lantai.
Dalam sebuah buku berjudul ‘Setengah Isi Setengah Kosong’, terlihat sekali bahwa kekuatan itu bisa timbul karena melihat dari sudut pandang berbeda. Kala kita melihat karang di lautan luas, terlihat seperti kuat menerjang ombak. Tapi pernahkah kita berpikir jika kita menjadi karang tersebut. Kita akan berpikir menjadi pulau. Begitulah manusia tidak puas akan takdirnya walau memang ada takdir yang bisa diubah. Jadi ingat film Final Destination yang bisa melihat takdir dan merubahnya. Hanya saja gagal. Bukanlah Supermen yang berlagak seperti Rambo yang dunia ini cari. Tapi Batman yang seperti Umar yang diinginkan. Tidak penting siapa dibalik topeng itu, tapi yang penting adalah sikap penolongnya.
Menghargai kelemahan kita adalah harga mati dari sikap hidup manusia. Semakin kita tahu kelemahan diri, kita akan tahu siapa diri kita. Sebaliknya, menghargai kekuatan orang lain adalah sikap legowo kita pada sebuah simbol padi. Semakin kuat diri harusnya semakin membuat kita lemah dari Sang Pencipta. Sikap itu hadir karena kita merasa bukan apa-apa. Wallahu ‘alam.

Nice artikel mas…kalo bisa dipanjangin lagi pasti bakal lebih sempurna lagi.
cheers!
wah kang.. benar2 dahsyat
memang kekutan dtangnya dr Allah semata
emang sih rada susah buat ngeliat kekurangan kita .. malah terkesan lebih gampang melihat kekurangan orang lain .. padahal sebenarnya apa yang dikatakan postingan ini bener banget: kita harus menghargai kelebihan orang lain dan berupaya mengikhlaskan kelemahan kita (namun kita harus senantiasa menimba ilmu untuk mengurangi kelemahan kita) ..