Calender

September 2010
S M T W T F S
« Nov    
 1234
567891011
12131415161718
19202122232425
2627282930  

Renungan

Ketika dirimu melihat ke cermin, perhatikan kiri dan kananmu....ada aura yg beda di sana.... free counters

Bos besar masuk lagi

Setelah sekian lama harus istirahat, Selasa 5 agustus 2008 jam 15.00 bos besar masuk. Hal yang menggembirakan karena beliau sehat. Sekarang bos besar kelihatan agak kurusan. Karena habis sakit kali ya. Tapi mudah-mudahan bos besar tidak sakit lagi dan tidak menggantang asap lagi. Nanti bisa sakit lagi deh kalau masih nekat menggantang asap.

Selamat datang pak.

Menjemput rejeki

Titik air mata kadang tidak bisa terbendung melihat penyakit akut negeri ini. Betapa orientasi tidak sejalan dengan fitrah hakiki. Retorika moral yang katanya diagung-agungkan ternyata hanya jadi lipstik murahan. Gincu, kalau kita dengar kata itu serasa berada di pinggir jalan dengan suasana remang-remang. Seperti itulah harga dari sebuah nilai. Dzalim mendzalimi sudah jadi seperti makanan sehari-hari. Saling sikut dan saling tendang sudah kayak anak kecil yang baru lihat film Power Ranger lalu mempraktekan ke teman mainnya. Kelakuan tergantung dari yang dilihatnya. Pembenaran seolah jadi obat bagi borok yang sudah lama. Kalau dulu undang-undang jadi sangat dihargai dan dipatuhi. Sekarang makin punya ‘harga’, tapi tidak dipatuhi. Koq bisa? Ya bisalah. Bayangin aja tuk nge-gol-in satu pasal aja kudu merogoh kocek jutaan. Toh juga itu aturan dibuat mainan aja. Sama kayak anak kecil tadi kan.

Mental itu udah bobrok dari lama. Bangunan moral itu sudah runtuh perlahan. Bukan dari kalangan kacangan dan spagetian saja. Tapi juga dari elit-elit pesantren yang katanya mengharamkan pencurian, tapi bisa mendalilkan korupsi. Agama sudah diplintir jadi ajang cari duit. Celah-celah kekafiran koq malah dibiarkan tumbuh. Padahal kalau dipikir realita, yang jelas-jelas haram itu malah jadi mubah. Asap ngepul dari cerobong hidup serasa kenikmatan itu hanya sampai di sana. Anak kecil yang main petasan aja dibilang bakar duit. Padahal sih hanya masalah mengganggu aja pas waktu mau bobo siang atau bobo malam. Tuh kan gak jauh beda sama nabi palsu jaman Muhammad. Menurut dia boleh tapi kalau merugikan dirinya dibilang salah. Apa beda antara bakar petasan dengan bakar rokok.

Keyboard negeri ini sudah error. Aku ketik ‘A’ ternyata yang keluar ‘m’. Ini keyboardnya yang salah atau memang salah tender. Salah kelola kali ya. Tapi yang membuatku heran adalah budaya menjemput rejeki. Macet sudah tidak asing lagi di telinga kita. Tapi sadarkah jika salah satu sebab macet itu ulah dari supir angkot yang nge-tem (baca:mangkal) di pinggir jalan. Dentuman klakson seolah tidak berarti apa-apa. Kenikmatan itu tercapai jika semakin lama berhenti karena semakin banyak penumpang yang naik. Pekak, begitulah kalau mau dibilang. Hampir tidak beda dengan elit-elit politik yang makan uang rakyat. Istighfar……….

Thufail Al-Ghifari - metamorfosis

Menjadi karanglah meski itu tidak mudah
Sebab ia akan menahan sengat sinar mentari yang garang
Sebab ia akan kukuh halangi deru ombak yang kuat menerpa tanpa kenal lelah
Melawan bayu yang keras menghembus
Dan menerpa dengan dingin yang coba membekukan
Sebab keteguhannya akan menahan hempasan badai
yang datang mengerus terus menerus
ia akan kokohkan diri agar tak mudah hancur dan terbawa arus
ia akan berdiri tegak berhari – hari, bertahun tahun berabad – abad
tanpa rasa jemu dan bosan
menjadi mutiaralah meski itu juga tak mudah
sebab ia berada di dasar samudera yang dalam
sebab ia begitu sulit dijangkau oleh tangan tangan manusia
sebab ia begitu berharga
sebab ia begitu indah dipandang mata
sebab ia tetap bersinar meski tenggelam dikubangan yang hitam
menjadi pohonlah yang tinggi menjulang meski itu tidak mudah
sebab ia akan tatap tegar bara mentari yang terus menyala disetiap siangnya
ia akan meliuk halangi angin yang bertiup kasar
ia akan terus menjejaki bumi hadapi gemuruh sang petir
sebab ia hujamkan akar yang kuat menopang
untuk menahan gempita hujan yang coba merubuhkan
dan senantiasa berikan bebuahan yang manis dan mengeyangkan
sebab ia akan berikan tempat bernaung bagi burung – burung yang singgah di dahannya lalu berikan tempat berlindung dengan rindang daun – daunnya
menjadi pauslah meski itu juga tak mudah
sebab dengan sedikit kecipaknya ia akan menggetarkan ujung samudera
sebab besar tubuhnya akan menaklukan musuh yang coba mengganggu
sebab sikap diamnya akan membuat tenang laut dan seisinya
menjadi melatilah meski tampak tak bermakna
sebab ia akan tebar harum wewangian tanpa meminta balasan
ia begitu putih seolah tanpa cacat
sebab ia tak takut hadapai angin dan hujan dengan mungil tubuhnya
ia tak pernah iri melihat mawar yang segar merekah
dan tak pernah malu pada bunga matahari yang menjulang tinggi
ia tak pernah dengki dengki dan rendah diri pada keanggunan anggrek dan tulip yang berwarna warni
dan tak gentar layu karena pahami hakikat hidupnya
menjadi elanglah dengan segala kejantanannya
meski itu juga tidak mudah
sebab ia harus melayang tinggi menembus birunya langit
melanglang buana taklukan medannya.

Sebab ia harus melawan angin yang menerpa dari segala penjuru
Ia harus mengangkasa jauh tanpa takut jatuh
Menukik tajam mencengkeram mangsa
Dan kembali ke sarang dengan makanan di paruhnya
Bersama kepak sayap yang membentang gagah
Menjadi kupu – kupulah meski itu juga tidak mudah
Sebab ia hrus melewati proses – proses sulit sebelum dirinya saat ini
Ia lalui semedi panjang tanpa rasa bosan
Dan belajar lebih banyak berdiam
Untuk menunggu waktu yang tepat tentang keindahan
Sebab ia bersembunyi dan mehanan diri dari segala yang menyenangkan
Hingga tiba saat untuk keluar dan bagikan kebaikan

Entah kenapa ?

Bicara sebuah realita kita akan melihat dunia. Berbicara dengan hati maka kita akan melihat akhirat. Hati ibarat mata pedang yang tumpul. Ia bisa merasakan derasnya aliran angin tapi tidak dapat merasakan tekanan permukaan. Aneh bin ajaib jika manusia yang diciptakan dari sebuah tanah bisa menjadi sebuah golok. Golok berbeda dengan pedang. Jika kita ibaratkan dengan dunia hacker, golok itu adalah tools hack dengan memory besar sedangkan pedang adalah tools yang sangat tiny, tapi mereka berdua menghasilkan efek yang dahsyat. Semakin kita asah hati itu, akan semakin peka terhadap sinyal jaman. Parameter kekuatannya ada pada mata pedang itu sendiri, yaitu tangan. Ketika sinyal yang kuat itu merasakan, maka tangan kita akan langsung menyambutnya. Santai dulu jek…..ini bukan urusan pukul-pukulan. Tapi hanya sekedar kiasan. Jika hati sudah kadung senang, apapun bisa dilakukan untuk itu. Misal jika senang dengan komputer, apapun akan dilakukan untuk kebaikan komputer itu. Tidak tanggung-tanggung, jika sudah maniak sekali bisa membeli spare part baru apa saja jika itu dirasa menjadikan lebih baik.

Harapan Itu Masih Ada

Tatap tegaklah masa depan
Tersenyum lagu kehidupan
Dengan cita dan satu asa
Bersama membangun Indonesia
Pegang teguhlah kebenaran
Kalahkan nafsu angkara
Berkorban dengan jiwa dan raga
untuk tegaknya keadilan

Bangkitlah negeriku
Harapan itu masih ada
Berjuanglah bangsaku
Jalan itu masih terbentang

S’lama matahari bersinar
S’lama kita terus berjuang
S’lama kita satu berpadu
Jayalah negeriku jayalah …

Munsyid/Nasyid: Shoutul Harokah