Titik air mata kadang tidak bisa terbendung melihat penyakit akut negeri ini. Betapa orientasi tidak sejalan dengan fitrah hakiki. Retorika moral yang katanya diagung-agungkan ternyata hanya jadi lipstik murahan. Gincu, kalau kita dengar kata itu serasa berada di pinggir jalan dengan suasana remang-remang. Seperti itulah harga dari sebuah nilai. Dzalim mendzalimi sudah jadi seperti makanan sehari-hari. Saling sikut dan saling tendang sudah kayak anak kecil yang baru lihat film Power Ranger lalu mempraktekan ke teman mainnya. Kelakuan tergantung dari yang dilihatnya. Pembenaran seolah jadi obat bagi borok yang sudah lama. Kalau dulu undang-undang jadi sangat dihargai dan dipatuhi. Sekarang makin punya ‘harga’, tapi tidak dipatuhi. Koq bisa? Ya bisalah. Bayangin aja tuk nge-gol-in satu pasal aja kudu merogoh kocek jutaan. Toh juga itu aturan dibuat mainan aja. Sama kayak anak kecil tadi kan.
Mental itu udah bobrok dari lama. Bangunan moral itu sudah runtuh perlahan. Bukan dari kalangan kacangan dan spagetian saja. Tapi juga dari elit-elit pesantren yang katanya mengharamkan pencurian, tapi bisa mendalilkan korupsi. Agama sudah diplintir jadi ajang cari duit. Celah-celah kekafiran koq malah dibiarkan tumbuh. Padahal kalau dipikir realita, yang jelas-jelas haram itu malah jadi mubah. Asap ngepul dari cerobong hidup serasa kenikmatan itu hanya sampai di sana. Anak kecil yang main petasan aja dibilang bakar duit. Padahal sih hanya masalah mengganggu aja pas waktu mau bobo siang atau bobo malam. Tuh kan gak jauh beda sama nabi palsu jaman Muhammad. Menurut dia boleh tapi kalau merugikan dirinya dibilang salah. Apa beda antara bakar petasan dengan bakar rokok.
Keyboard negeri ini sudah error. Aku ketik ‘A’ ternyata yang keluar ‘m’. Ini keyboardnya yang salah atau memang salah tender. Salah kelola kali ya. Tapi yang membuatku heran adalah budaya menjemput rejeki. Macet sudah tidak asing lagi di telinga kita. Tapi sadarkah jika salah satu sebab macet itu ulah dari supir angkot yang nge-tem (baca:mangkal) di pinggir jalan. Dentuman klakson seolah tidak berarti apa-apa. Kenikmatan itu tercapai jika semakin lama berhenti karena semakin banyak penumpang yang naik. Pekak, begitulah kalau mau dibilang. Hampir tidak beda dengan elit-elit politik yang makan uang rakyat. Istighfar……….
Recent Comments